#Tiket6 – Pak Taufik, Mualaf yang terbuang

Assalamu Alaikum,

Minggu lalu, saat saya selesai sholat Zuhur di masjid Al Latif Blok M, ketika saya sedang duduk  dan menunggu teman untuk barengan makan siang, disamping saya ada bapak kira-kira berumur 40 tahunan. Basa-basi, saya mencoba untuk membuka obrolan. Bapak ini sebenernya sudah tidak asing lagi di masjid ini. Sudah beberapa kali sering melihat dia, apalagi jika ada kajian dan ceramah  yang diselenggarakan oleh pengurus masjid tersebut.

Kajian-kajian tersebut dihadiri oleh penceramah terkenal seperti Aa Gym, Ustad Arifin Ilham dan lain-lain. Banyak peserta yang berdatangan dari berbagai daerah di jakarta, dan kadang dari luar daerah. Salah satunya bapak Taufik ini. Obrolan saya mulai dengan bertanya tentang asal Ibu-ibu yang datang dikajian tersebut. Lalu saya lanjutkan pertanyaan basa-basi terhadap beliau.

” Bapak tinggal dimana? “, tanya saya. Beliau bilang dia berasal dari Tangerang. Ke sini kalau ada kajian saja. Itupun jika punya uang untuk ongkos kesini,ungkap dia.  Lalu beliau tanya tentang saya. Mulai dari mana asal saya sampai tanya udah berkeluarga apa belum.

Saya pun balik bertanya sama dia, ” pak Taufik kesini dengan siapa?, dengan istri?” . Dia Jawab, ” Saya sendirian kesini. Saya sudah cerai dengan istri saya” . Saya cuma bilang ” Oh”. Lalu pertanyaan saya lanjutkan dengan bertanya, ” anak pak Taufik kemana? ” . “Saya tidak punya anak jawab pak Taufik” .

Karena saya penasaran dengan wajahnya dia yang keturunan Tionghoa, akhirnya saya memberanikan bertanya.

pak-taufik-mualaf

” Pak Taufik Mualaf ya?”. ” Dia tertawa dan menjawab iya.”  Dalam hati saya bergumam “Dugaan saya tidak salah”.

Saya makin tertarik untuk bertanya dan menggali seputar kemualafan dia. Dia menceritakan alasannya tentang memutuskan berpindah keyakinan ke agama Islam. Tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para mualaf baru seperti diusir dari rumah, dimusuhi dan tidak dianggap keluarga.Dan pak Taufik ini salah satu dari sekian mualaf yang mengalaminya.

Dia dicerai oleh istrinya, diusir dari rumahnya. Saat ini pak Taufik tinggal di sebuah mushola yang berada 5 KM dari tempat tinggal keluarganya.

Terharu mendengar ceritanya dia. Lalu saya meminta nomor telepon dia. Rencanya ingin menghubungi dia lain waktu. Lalu dia bilang , ” Saya ga punya handphone. Kalau ada udah saya jual kali buat modal dagang”.

Saya bertanya, ” pak Taufik mau dagang apa ? “.  ” Saya mau dagang parfum,jawabnya”. Mau beli grosiran terus dagangnya di masjid-masjid yang ada kajian “.

Setelah selesai ngobrol akhirnya saya pamit dan janjian selasa depan untuk datang lagi ke masjid.

 

——–Seminggu Kemudian——

Tadi setelah sholat zuhur akhirnya saya ketemu pak Taufik. Saya datangi dan salami. Ngobrol sebentar lalu kami turun bareng ke bawah. Kebetulan saya bareng dengan beberapa teman kantor.

Lalu tanpa basa basi, salah satu teman menyerahkan donasi kepada pak Taufik sejumlah Rp 300.000 . Uang itu kami niatkan untuk membantu pak Taufik mewujudkan keinginannya untuk bisa membuka usaha jual Parfum yang diceritakan beliau minggu lalu.

Teman saya pak Cipto menyerahkan bantuan tersebut. Pak Taufik sangat berterima kasih. Lalu kami berpamitan untuk makan siang dan pak Taufik pergi pulang ke Tangerang.

Semoga uang yang diberikan ke pak Taufik bisa bermanfaat. Dan uangnya memang benar-benar untuk modal usaha dia.

Dan meskipun hanya lewat cerita dan pertemuan singkat, mudah-mudahan yang pak Taufik ucapkan dan ceritakan adalah ucapan yang jauh dari kebohongan. Semoga Pak Taufik diberi kekuatan dan ditabahkan dalam kesulitan kesulitan hidup yang menimpa.

 

(pak-taufik-mualaf2

( Foto yang diambil minggu lalu )

 

Jakarta 11 Oktober 2016

 

 

Satu Tiket Kesurga

Ingin berarti lalu mati

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *